Pages

Sunday, September 6, 2009

Choosing the Right Camera for Photography

One of my hobbies is photography. I really like to enjoy pictures as I see them, and I also like to collect pictures by myself. To have a good collection of pictures, besides you must have some skills, you also must have a proper equipment to achieve this. Looking from the development of digital photography, sometime it can be quite confusing how to choose the right “gadget” that suits you. There are a lot of digital camera to choose, with various kinds of type, functionality, and price. I admit that to choose a right camera need a lot of consideration. But worry not, I found some good website that actually can give you a further consideration about things you want to buy.
Who doesn’t know about DPreview? I think this is a great website to start for information gathering about digital camera. But I think DPreview alone is not sufficient to satisfy your needs about digital camera and photography. That’s why I think Shopwiki can helps you before you decide to buy your gadget. For example, if I want to buy a Digital SLR camera (such as Nikon D90) I can easily find it in Shopwiki also where are the stores that are selling the camera. Not only for camera, if you want to search for other accessories, you can find it there too.
At last, I hope you can use the information available on the Internet before you buy something, and Shopwiki is a good place to start. Don’t let yourself regret after you buy something that doesn’t match your expectation. Take your time, and eventually you will find yourself developing you hobbies and photography skills at the same time without any regret. Have a nice day!

Saturday, September 5, 2009

Bali seems fun ^^

Udah lama ga mengupdate blog ini lagi :p banyak hal terjadi, termasuk dalam hal karir juga :) Mulai bulan depan tampaknya saya juga harus meninggalkan Jakarta untuk bekerja di Bali (setelah bergabung dengan sebuah perusahaan pengembang perangkat lunak yang bermarkas disana). Akhirnya kehidupan sebagai anak kos mutlak harus saya jalani lagi, tapi tentu saja itu bukan masalah karena selama kuliah pun saya sudah terbiasa dengan hidup sendiri di kos (tanpa keluarga). Mungkin banyak orang yang kenal dengan saya bertanya-tanya kenapa Bali? Banyak orang tau bahwa Bali terkenal dengan keindahannya, Bali bisa digambarkan dengan istilah "eksotis". Hal itu pula yang cukup membuat saya tertarik untuk membuat beberapa wish list beberapa tahun lalu untuk melakukan beberapa hal di Bali ^^. Sebenarnya sejak awal tahun ini juga sempat terpikir ide untuk melakukan backpacking ke Bali di tahun ini (menurut beberapa info yang saya temukan bahwa jarak Bali - Jakarta PP bisa dicapai dengan biaya 200 rb rupiah saja).
Tapi yang terjadi malah lebih baik dari apa yang saya pikirkan sebelumnya! Rupanya Tuhan memberikan satu kesempatan bagi saya untuk bekerja disana, wow isn't that great? :D Sebelumnya saya memang berkeinginan untuk bekerja di Bali, tapi hal itu hanya terpikir sepintas lalu. Ada juga orang yang bilang "ngapain kerja jauh-jauh? yang deket aja..", saya cuma bisa sedikit tersenyum menanggapinya, toh kalau Tuhan memang mengarahkan untuk bekerja di Bali, bagaimana mungkin saya dapat menolak kehendakNya? But I know one thing for sure, ada misi khusus kenapa jalan menuju Bali itu terbuka bagi saya, hal itu rasanya yang akan jadi pertanyaan yang harus direnungkan dan dijawab selama saya disana... wish me luck in Bali :)

Friday, August 21, 2009

Belum Terlambat untuk Pulang

Just wanna share with you all..

Belum Terlambat untuk Pulang

Diceritakan kembali oleh : Novizar Tirta

Seorang gadis muda tumbuh remaja di perkebunan bunga tidak jauh dari kota Magelang, Jawa Tengah. Bagi gadis ini, orang tuanya kolot sekali; cenderung bereaksi berlebihan mengenai teman-teman sepergaulannya, musik yang ia dengarkan dan rok mininya. Mereka menghukum dia beberapa kali, dan si gadis memendam kejengkelan di hatinya terhadap orang tuanya, terutama si Ayah.

“Aku benci Ayah!!” teriaknya, ketika si Ayah mengetuk pintu kamarnya setelah sebuah pertengkaran. Dan malam itu juga, ia menjalankan rencana yang sudah dipikirkannya berpuluh kali. Ia ingin melarikan diri…. Meninggalkan keluarganya, kampungnya, hidupnya yang ia kenal selama ini….. menuju sebuah kota besar; yaitu Jakarta .

Ia belum pernah ke Jakarta sebelumnya, tetapi berita-berita tentang semarak Ibukota Negara itu telah sungguh-sungguh menarik minat dia untuk datang dan melihat sendiri kota itu. Lagipula, berhubung koran-koran di kampung halamannya juga sering memberitakan tentang kerusuhan, demonstrasi, obat terlarang, kriminalitas dan kekerasan di Jakarta dengan sangat rinci, ia menyimpulkan pasti orang tuanya tidak akan mencari dia ke sana . Selain itu, ia juga yakin bahwa orangtuanya akan merasa ia terlalu muda untuk kabur sejauh itu. Ke Semarang mungkin atau Surabaya atau Yogya, tapi bukan Jakarta .

Pada hari ke dua di Jakarta , ia bertemu seorang pria yang mengemudikan mobil paling mewah yang pernah dilihatnya. Dan pria itu menawarkan pertolongan yang tidak mungkin ditolak; membelikan makan siang dan mengatur agar ia punya tempat untuk tinggal. Setelah mengajak gadis itu melewati perjalanan yang menakjubkan di tengah–tengah hutan beton kota Jakarta , pria itu memberi si gadis beberapa pil yang membuatnya “belum pernah merasa senikmat itu.” Ternyata ia memang benar, pikir gadis itu, orangtuanya selama ini cuma melarang dia menikmati segala kesenangan, tanpa alasan.

Kehidupan menyenangkan berlanjut satu bulan, dua bulan, setahun, hingga dua tahun. Orang bermobil mewah itu, yang ia panggil “bos,” mengajarinya “beberapa hal” yang disukai pria. Dan karena ia masih di bawah umur, pria membayar mahal untuk “pelayanan” yang diberikannya. Dengan uang di tangan dan tinggal di apartment mewah, hanya sesekali saja ia bisa teringat pada orang-orang di kampung halamannya. Namun hidup mereka sekarang kelihatan sangat membosankan dan kampungan di mata si gadis, sampai-sampai ia hampir tidak percaya bahwa dirinya pernah hidup dan tumbuh di sana .

Ia sedikit takut ketika melihat fotonya di halaman sebuah koran dengan judul “Apakah anda pernah melihat anak ini?” Rupanya ayah telah memasang iklan orang hilang dan memasang foto terakhir dirinya pada beberapa harian yang terbit di kota besar. Tapi sekarang penampilannya sudah jauh berubah, rambutnya panjang dan telah dicat pirang, pakaiannya terbuat dari bahan yang tidak akan dipakai oleh anak sebayanya di kampung, dan dengan semua rias wajah dan perhiasan yang ia kenakan, tidak akan ada yang menyangka bahwa sebenarnya ia masih kanak-kanak.

Setelah dua tahun, tanda-tanda terjangkitnya penyakit mulai muncul, dan ia terkejut melihat betapa cepatnya bos berubah menjadi kejam. “Zaman sekarang kita tidak bisa main-main!” geram si bos, dan tiba-tiba saja, ia sudah berada di jalanan tanpa uang di kantungnya. Si bos telah mengusir dia.

Meskipun demikian ia masih melakukan pekerjaannya – menjual tubuh mungilnya pada laki-laki iseng – beberapa kali semalam. Tapi tanpa dukungan si bos, bayaran mereka kecil, dan semua uang itu habis untuk membiayai kecanduannya pada obat-obatan.

Pada suatu malam yang agak dingin, ia menemukan dirinya tidur merapat ke pagar logam di depan pusat pertokoan. “Tidur” adalah kata yang kurang tepat, gadis remaja di tengah kota Jakarta malam hari dan tempat itu sama sekali rawan. Lingkaran hitam mengelilingi matanya, ia kurang tidur dan sering terbatuk-batuk. Ia hanya berbaring tanpa bisa tidur, sambil mendengarkan langkah kaki orang yang lewat, ia mulai merenungi jalan hidupnya. Ia tidak lagi merasa menjadi wanita hebat. Ia merasa seperti seorang anak kecil, tersesat di kota yang dingin, acuh tak acuh dan menakutkan. Ia mulai menggigil. Kantungnya kosong dan ia lapar. Beberapa jam lalu, ia terpaksa makan dari sisa Pizza yang dibuang orang di tempat sampah. Ia melipat kakinya, dan gemetar di bawah lembaran koran yang ditumpuk di atas mantelnya sambil berharap dapat menelan obat penenang..

Tiba-tiba sesuatu muncul begitu saja di pikirannya, dan satu gambaran terbayang di matanya; bulan Juli yang indah di kampung halamannya, ketika ribuan bunga mekar bersamaan, ia berlarian bersama anjingnya yang mungil. Mengejar bola karet di antara barisan bunga yang harum. “Tuhan, apa yang sedang kulakukan, mengapa aku pergi?” katanya dalam hati, dan rasa perih terasa bagai menghujam jantungnya. “Anjingku di rumah saja makan lebih enak daripada aku sekarang.” Ia menangis dan dalam sekejap ia tahu bahwa tidak ada yang lebih diinginkannya di dunia kecuali pulang. Ia pun menangis dan terus menangis sampai kelelahan memaksanya berhenti.

Keesokan harinya setelah mendapat sedikit rejeki, ia mencoba menelpon ke rumahnya. Tiga sambungan telepon, tiga kali dijawab mesin penjawab. Ia menutup telepon tanpa meninggalkan pesan pada dua kali yang pertama, tapi pada kali yang ketiga ia meninggalkan pesan: “Ayah, Ibu, ini aku. Aku berpikir mungkin aku akan pulang. Aku akan naik bis ke sana , dan aku akan tiba besok menjelang pagi hari. Kalau Ayah dan Ibu tidak datang, yah, mungkin aku akan terus naik bis entah ke mana.”

Perlu waktu sekitar sebelas jam dengan bis dari Jakarta ke Magelang, dan sepanjang jalan ia menyadari bahwa banyak terdapat cacat dalam rencananya ini. Bagaimana kalau orangtuanya tidak menyadari dan melewatkan pesan tersebut? Bukankah seharusnya ia menunggu sampai bisa berbicara langsung dengan mereka? Dan kalaupun mereka ada di rumah, mungkin sekali mereka pun sudah lama menganggapnya mati. Mereka tentu marah besar padanya. Mana mungkin mereka menerima dia lagi atau menganggapnya sebagai anak? Segera ia pun teringat akan segala hal yang ia perbuat dengan berbagai laki-laki di Jakarta dulu.

Pikirannya bolak-balik antara rasa kawatir dan kata-kata persiapan yang ia susun kalau-kalau ia bertemu ayahnya: “Ayah, aku tahu aku yang salah. Aku menyesal. Masih mungkinkah ayah memaafkan aku dan menganggap aku anak?” Ia mengucapkan kata-kata itu dalam pikirannya secara berulang-ulang, kerongkongannya terasa tersumbat bahkan ketika ia sedang melatih kata-kata itu. Sudah bertahun-tahun ia tidak minta maaf pada siapa pun.

Jam demi jam berlalu, sampai ‘Ya Tuhan!’ terminal bis Magelang tinggal beberapa belas kilometer lagi. Ia memejamkan matanya. Air mata menetes, tangannya dingin, perutnya terasa perih, dunia terasa berputar memusingkan di sekelilingnya. Untuk sesaat ia ingin mengubah rencananya tersebut.

Akhirnya bis berbelok memasuki terminal Magelang. “ Lima belas menit ya Pak Bu, setelah itu kita harus berangkat lagi. Lima belas menit saja!” teriak pak supir mengingatkan para penumpang yang hendak turun. Sebagian karena memang sudah harus turun, sebagian lagi sekedar ingin istirahat setelah duduk berjam-jam lamanya.

Yah, dia punya waktu lima belas menit untuk memutuskan langkah hidup selanjutnya. Apa yang akan terjadi dalam lima belas menit ini? Sebelum turun ia sempat bercermin pada kaca lipat kecilnya. Merapikan rambut dan membersihkan noda-noda air mata yang bercampur dengan eye-shadownya. Ia melihat noda-noda tembakau pada giginya, dan ia berharap semoga ayahnya tidak akan memperhatikan hal itu. Kemudian ia pun berjalan ke dalam terminal. Tanpa tahu harus mengharapkan apa.

Tidak satu pun dari puluhan adegan yang pernah ia pikirkan bisa menyiapkan dirinya untuk apa yang dilihatnya. Di sana , di atas kursi-kursi plastik berwarna biru gelap terminal bis, berdiri puluhan saudara, paman, bibi, sepupu, nenek sampai nenek buyut. Mereka semua memakai topi kertas untuk berpesta. Lengkap dengan terompet mereka. Beberapa dari mereka mengusung sebuah spanduk bertuliskan: “Selamat pulang kembali sayang!” Di tengah kerumunan penyambut, muncullah si ayah. Ia terlihat begitu kurus dan bungkuk seolah telah berusaha memikul beban yang terlalu berat baginya. Tapi bola mata ayahnya begitu indah, bersinar-sinar gembira dan basah oleh air mata. Ia memandang sesaat pada adegan yang tak pernah diperkirakan itu, lalu matanya terpejam, menumpahkan air mata yang terasa panas sekali di pipinya. Dadanya menjadi sesak. Ia masih terpejam, ketika tangan-tangan ayahnya merangkul pundaknya dan mendekap wajahnya ke dada bidang si ayah.

Ia pun memulai kata-kata yang telah dilatihnya berulangkali:

“A..a..ayah..(hik), akk..aku tahu..aku..yang..(hik)..sss…”.

Si ayah memotong kata-kata dia: “Ssst..nak. Kita tidak punya waktu untuk itu. Ayo, sayang kita harus pulang segera, nanti kita terlambat untuk menyantap puding coklat buatan ibumu di rumah. Kami sudah menyiapkan pesta bagimu di sana ..” Dan untuk beberapa saat mereka masih berangkulan, menangis.

--oo0O0oo--

Catatan dari penulis:

Siapapun yang membaca tulisan ini tahu bahwa ini bukan tulisan original saya. Dua ribu tahun yang lalu, Yesus pernah menceritakan alur cerita yang sama, inti cerita yang sama, walau dengan detil kebudayaan dan penokohan yang berbeda (Lukas 15:11-22). Dan di zaman ini, Philip Yancey pun telah menceritakan ulang kisah yang luar biasa ini bagi konteks di Amerika.

Saya hanya mengubah sedikit di sana dan sedikit di sini apa yang telah dikerjakan secara luarbiasa oleh Yesus dan Yancey. Saya memakai konteks Magelang dengan gambaran tentang kebun bunga, bulan Juli yang indah serta terminal kota Magelang karena kebetulan saya pernah cukup lama bertugas di sana pada medio era 1990-an sebagai auditor. (Jadi, saya minta maaf jika pada masa sekarang beberapa detil tentang Magelang mungkin telah berubah)

Semoga kisah ini mengingatkan kita pada satu pesan penting yang ingin disampaikan Yesus yaitu:

“Hanya karena kebaikan kasih karunia Allah-lah kita diterima oleh-Nya, bukan karena kebaikan atau prestasi kita.” (Efesus 2:8,9)

Sebab di hadapan Tuhan, kita tidak berbeda dengan anak yang telah melarikan diri itu. Tuhan memberkati.

Sunday, June 14, 2009

Gw jatoh dengan anggunnya...

Tanggal 8 Juni kemarin gw mengalami sedikit kecelakaan kecil.. kalau temen-temen belom tau, gw berangkat ke kantor itu naek motor, dan perjalanan yg gw tempuh itu dari Tangerang ke daerah sekitar Kebon Jeruk lewat jalan Daan Mogot.. kira-kira pulang pergi tiap hari itu sekitar 50 km lah.. Nah.. sebagai seorang pengendara motor yang baik, tentunya gw harus mentaati peraturan lalu lintas dong :D di sepanjang jalan Daan Mogot itu pastilah banyak lampu merah.. dan kalau lampunya warna merah berarti kendaraan itu harus berhenti (kalo ga mau disemprit pak pulisi, anak TK juga tau heuheuheu).
Di salah satu lampu merah yang gw lewatin, kebetulan lampunya itu baru aja berubah dari ijo jadi merah, ya tentunya gw melambatkan motor gw, dan berenti tepat sebelum lampu merah. Posisi motor gw agak di tengah jalan, agak jauh di sebelah kanan gw itu ada mobil jg yang berenti.. sementara di sebelah kiri gw itu masih kosong.. tiba-tiba...

BRAKK!!

Motor gw diseruduk sama motor lain yang melaju dengan lumayan kenceng dari arah kiri belakang.. entah kira-kira kenapa tuh orang masih nyelonong kenceng.. entah gara-gara ga liat lampu merah, atau remnya blong.. intinya motor gw ditabrak.. mungkin karena dia juga coba menghindar, akhirnya jadi nyenggol tapi lumayan kenceng..
Orang itu jatoh di sebelah kiri gw sambil pasang gaya ngesot kurang lebih setengah kilometer (weks...) ga ding, cuma setengah meter aja dia merosot di jalan sama motornya... untungnya pengemudi motor itu cowok juga.. Detik pertama gw diseruduk gw berpikir, "Aduh, gw ditabrak nih... yang nabrak gw jatoh pula..." sekilas sempet ngeliat orang itu jatoh di sebelah kiri depan gw... Detik berikutnya tau ga apa yang gw pikir? Gw mikir... "Loh.. loh.. kok gw miring-miring ke kiri begini... eh eh eh.. kayanya gw bakal jatoh juga nih.." dan kemudian..

BRAAKK!!

Gw jatoh dengan anggun dan suksesnya ke sebelah kiri sambil diliatin pengendara motor lain yang udah antri nunggu lampu merah di belakang gw... well, gw agak emosi juga sih sama pengendara motor itu, tapi dia udah pasang gaya minta maaf sama gw, gw liat dia juga tampaknya ga kenapa-kenapa, rasanya badan gw jg ga kenapa-kenapa, cuma agak lemes aja kaki gw.. mungkin gara-gara keseruduk tadi.. gw coba nyalain lagi motor gw sekali starter, ga bisa nyala.. dua kali... masih ga bisa nyala.. tapi untungnya bisa nyala lagi motor gw, kalo ga ntar gw minta pertanggung jawaban sama tuh orang hehe..
Gw jg agak bingung sih, rasanya gw udah nahan motor pake kaki, tapi kok masih jatoh juga yah.. apa gw nahannya pake kaki kanan aja kali yah =_= atau pake kaki kiri juga, tapi udah kepalang lemes gara-gara diseruduk heuheu... dipikir-pikir agak konyol juga ah jatohnya.. coba kalo jatohnya pake gaya biar rada keren dikit :)

Thanks God lah ga kenapa-kenapa, coba bayangkan kalo tiba-tiba lampu merahnya jadi warna ijo.. apa yang akan terjadi :) Jadi mikir-mikir serius buat ambil asuransi dah gw kalo begini sih hehehe.. just like my quote: shit happens sometimes.. just enjoy it.. those kind of things can makes your life colorful.. have a nice day
GBU