Pages

Showing posts with label opinion. Show all posts
Showing posts with label opinion. Show all posts

Monday, October 27, 2008

I choose to vote!

Hari Minggu kemarin tanggal 26 Oktober merupakan hari pemilihan Walikota Tangerang. Karena saya adalah warga Tangerang yang baik :p Maka saya berkesempatan untuk berpartisipasi dalam ajang pemilihan Walikota kemarin. Mungkin banyak orang yang memilih untuk golput dalam pemilihan-pemilihan yang ada (pemilihan bupati, walikota, kepala desa, atau bahkan pemilihan Presiden), namun saya melihat bahwa hak untuk memilih ini adalah suatu priviledge yang spesial bagi seorang warga negara. Walau jika dibandingkan, suara saya seorang diri begitu tidak signifikan, tapi setidaknya saya masih memiliki kesempatan untuk bersuara, menyatakan pendapat, dan memilih untuk melakukan perubahan. Itu jauh lebih baik daripada sengaja diam dan tidak berbuat apa-apa (walau dengan alasan terlalu kecewa dengan janji-janji palsu, dll). Hari ini juga saya melihat status YM dari seorang rekan saya yang menyatakan "salah memilih itu lebih baik daripada tidak memilih sama sekali", mungkin dia menulis kalimat tersebut dalam konteks lain, tapi ketika saya menarik hubungan dengan apa yang saya tulis saat ini, ternyata kalimat tersebut memang betul adanya, dengan salah memilih kita bisa belajar, sehingga pada kesempatan berikutnya kita bisa tau apa yang harus dipilih, dan manakah pilihan yang benar.
Intinya, saya berharap kalau ke depannya sistem pemilihan wakil rakyat di negara kita tercinta Indonesia dapat berjalan jujur, transparan, dan adil. Memang ada beberapa rekan yang saya hubungi langsung menyatakan kalau mereka belum berkesempatan untuk memilih pada pemilihan walikota kemarin karena kekurangan dalam sistem yang ada saat ini, tapi saya berharap di pemilihan berikutnya semua kekurangan itu bisa diperbaiki. Siap-siap nyoblos di pemilihan umum Indonesia tahun 2009! Nyatakan suara dan aspirasimu melalui pemilihan umum! Say no to golput! I choose to vote! :)

NB: itu foto jari tangan saya sesudah nyoblos :)

Sunday, August 17, 2008

Merdeka (apanya?)

Sudah 63 tahun Indonesia sudah merdeka, tapi tampaknya Indonesia masih jauh dari apa yang kebanyakan orang bilang sebagai kemerdekaan sejati. Masih banyak kebobrokan di mana-mana, mulai dari instansi pemerintah, sampai tukang parkir di pinggir jalan. Kita bisa melihat dari berbagai media tentang keadaan Indonesia saat ini, khususnya mengenai persiapan menjelang pemilu. Sudah mulai banyak calon-calon pemimpin bangsa ini yang mulai mempromosikan diri mereka.Tapi tampaknya bangsa ini sudah mulai bosan dengan janji-janji gombal para pemimpin hehe...
Kemerdekaan di bidang media juga ternyata berperan besar dalam penyampaian informasi kepada kita. Tapi tentu saja kemerdekaan dan kebebasan ini juga harus berada dalam koridor yang baik dan benar. Masih sering saya lihat tentang peringatan pemerintah mengenai beberapa acara tertentu di televisi. Salut untuk pemerintah yang sudah mulai menerapkan aturan yang baik untuk media yang ada dan isi dari media tersebut. Misalnya saja mengenai label tayangan (biasanya ada di bagian atas layar) yang sudah mulai menjadi standar di televisi (misal: Bimbingan Orangtua, Remaja, Dewasa, Anak-anak, dll) atau juga iklan yang sudah mulai diseleksi kelayakan tampilnya di media.
Walau demikian terkadang saya juga masih menemukan hal yang tampaknya kurang sesuai. Misalnya dalam acara berita di televisi terkadang masih ada "kameraman nakal" dan "penyusun berita nakal" (saya membedakan pembaca berita dengan orang yang menyusun berita untuk dibacakan para pembaca berita, terutama yang cantik :p). "Hee.. apa tuh maksudnya kameraman nakal?", kira-kira begitu protes kameraman yang membaca blog ini. Yang saya maksud disini adalah ke-iseng-an kameraman yang biasanya mencari wajah-wajah wanita yang fotogenik atau kameragenik dan di-shoot lebih lama dibanding yang lain, bahkan ada juga yang sempat di zoom :p (silahkan cek di acara berita atau acara kuis yang ada di televisi). Sementara yang saya maksud dengan "penyusun berita nakal" disini adalah pemilihan kata-kata dalam naskah berita yang terkadang kurang objektif, atau menimbulkan konotasi dan pandangan yang berbeda. Padahal sebaiknya mungkin suatu berita itu disampaikan secara objektif dan jelas, tanpa dibumbui kalimat yang bisa menimbulkan kerancuan atau bersifat provokatif (cuma ada beberapa tayangan provokatif yang saya suka, salah satunya Wisata Kuliner, memprovokasi untuk meneteskan air liur hehe). Tapi yah, itulah media, cuma berfungsi sebagai alat penyampai informasi. Orang-orang yang berada di balik media justru yang bertanggungjawab untuk mengarahkan media. Dirgahayu ke-63 untuk Indonesiaku, semoga tahun depang bisa jadi tahun gemilang untuk Indonesia.

"Aku bermimpi bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang besar..." (pandu)